Silahkan temen-temen yang download lagu kesukaan anda,
Mudah lhokarna tinggal pilih saja, apalagi sudah saya sesuaikan dengan artis-artis dan judul-judul tersebut
Angkasa band
1. setiya itu menyakitkan
Download disini
Cermin band
1. Wahai sahabatq
Download disini
Doel sumbang
1. Maliioboro
Download disini
Minggu, 30 September 2012
SISTEM BASIS DATA
Tanggal 30-09-2012
Database design menggunakan diagram ERD
Perancangan basis data relasional adalah proses untuk
1. mengidentifikasi atribut (elemen data) yang menggambarkan fakta dari suatu organisasi
2. menentukan arti dari setiap atribut untuk organisasi
3. menemukan hubungan antar atribur
4. mengelompokan atribut-atribut tersebut dalam relasi
Dari pada aq capek mengetik semuanya lebih baek
temen2 Download disini saja MATERINYA Ya keduanya (0_0)
Download disini
Database design menggunakan diagram ERD
Perancangan basis data relasional adalah proses untuk
1. mengidentifikasi atribut (elemen data) yang menggambarkan fakta dari suatu organisasi
2. menentukan arti dari setiap atribut untuk organisasi
3. menemukan hubungan antar atribur
4. mengelompokan atribut-atribut tersebut dalam relasi
Dari pada aq capek mengetik semuanya lebih baek
temen2 Download disini saja MATERINYA Ya keduanya (0_0)
Download disini
Sabtu, 29 September 2012
PEMROGRAMAN VISUAL
Bagi teman-teman yang belum punya data dari dosen Nur Nafi'iyah, S.Kom
yaitu pemrograman visual anda bisa download disni
yaitu pemrograman visual anda bisa download disni
REKAYASA PERANGKAT LUNAK (RPL)
Apa sie yang dimaksud rekayasa perangkat lunak (RPL) 1 itu
Rekayasa Perangkat Lunak (software engineering) adalah suatu proses rancang bangun.
Beberapa definisi tentang rekayasa perangkat Lunak :
* software engineering adalah sebuah disiplin ilmu dalam bidang teknik yang berfokus masalah-masalah praktis dalam pengembangan sistem perangkat lunak yang besa.
tanpa berbelit-belit silahkan saja Download disini
Rekayasa perangkat lunak (RPL) 2
Silahkan Download disini
Rekayasa Perangkat Lunak (software engineering) adalah suatu proses rancang bangun.
Beberapa definisi tentang rekayasa perangkat Lunak :
* software engineering adalah sebuah disiplin ilmu dalam bidang teknik yang berfokus masalah-masalah praktis dalam pengembangan sistem perangkat lunak yang besa.
tanpa berbelit-belit silahkan saja Download disini
Rekayasa perangkat lunak (RPL) 2
Silahkan Download disini
Rabu, 26 September 2012
POSKOLONIALISME AGAMA
POSKOLONIALISME AGAMA
A. Poskolonialisme
Poskolonialisme merupakan bentuk
penyadaran dan kritik atas kolonialisme. Poskolonialisme menggabungkan berbagai
disiplin keilmuan mulai dari filsafat, cultural studies, politik, bahasa
sastra, ilmu sosial, sosiologi, dan feminisme. Poskolonial bukan berarti
setelah kemerdekaan, tetapi poskolonial dimulai ketika kontak pertama kali
penjajah dengan masyarakat pribumi.
Kajian poskolonial dalam bidang
budaya memang tergolong baru. Bahkan, mungkin masih jarang yang berani
menerapkan teori kajian ini ke dalam wilayah budaya. Karena, awal munculnya
paham tersebut berasal dari kajian sastra (postcolonial literature) yang
dipelopori oleh Bill Aschroft dkk (Gandi, 2001:vi). Paham ini, semula
mencuatkan pemahaman model national dan black writing. Model national
memusatkan perhatian pada hubungan antara negara dan bekas jajahannya.
Sedangkan black writing, menekankan aspek etnisitas. Sebagaimana kehadiran
postmodernisme dalam kajian budaya, yang juga dipicu oleh teori-teori sastra
dan seni, postkolonialisme pun sebenarnya layak diangkat untuk mengkaji budaya.
Konteks penjajah terjajah, dalam fenomena budaya sebenarnya lebih kaya. Banyak
hal yang unik dan menarik untuk diungkap melalui teori postkolonialisme.
Hegemoni penjajah yang luar biasa, akan menjadi bahan kajian peneliti budaya.
Begitu pula persinggungan pluralisme budaya, telah banyak menyuguhkan persoalan
etnis, sehingga menarik bagi paham poskolonialisme.
Tradisi
poskolonial mengenal dua kunci utama pemahaman budaya: Pertama,
dominasi-subordinasi. Isu dominasi dan subordinasi muncul berkenaan dengan
krontrol militer kolonial genocide dan keterbelakangan ekonomi. Keduanya tak
hanya terjadi antara negara dan etnis, tetapi juga antar negara dengan negara,
etnis dengan etnis. Bahkan, pada gilirannya dengan sistem kolonial yang
aristokrat telah mengubah suborninasi dan dominasi individu kepada individu
lain. Jika hal ini terjadi, maka hubungan atasan-bawah, patron-clien, majikan-buruh,
akan selalu ada. Budaya semacam ini, telah melahirkan keunikan-keunikan yang
patut dicermati oleh peneliti budaya. Bahkan, suborniasi dan dominasi laki-laki
terhadap perempuan, sehingga di Jawa ada anggapan wanita minangka kanca
wingking, artinya wanita hanyalah teman di belakang (baca: dapur) menjadi
semakin rumit.
Kedua,
hibriditas dan kreolisasi. Budaya lama di era kolonial, melalui proses
hibriditas akan semakin pudar. Bahasa juga akan mengalami kreolisasi, yaitu ke
arah penciptaan bentuk-bentuk ekspresi baru. Budaya kolonial akan diubah
(transkultural) ke dalam wacana hidup baru. Identitas budaya yang konon selalu
dianggap halus dan agung (adiluhung), kemungkinan besar segera bergeser
maknanya. Era global-lokal dan otonomi daerah, sedikit banyak telah memoles
budaya lama ke dalam budaya baru. Kekuatan paternal dan pusat, lama-kelamaan
berubah ke pinggiran. Kekuatan sakral (njeron beteng) misalnya, akan berubah
sembilan puluh derajat. Tembok keraton dari waktu ke waktu juga “runtuh”,
bercampur dengan kelugasan di luar keraton. Dalam perubahan tersebut selalu
terjadi negosiasi antar pelaku. Hibriditas tradisi yang konon dianggap
hebat, lalu berkembang menjadi melemah.
Atas
dasar hal tersebut, lalu muncul dua tipe kolonialisme. Pertama, berhubungan
dengan penaklukan fisik. Kedua penaklukan pikiran, jiwa, dan budaya. Baik
penaklukan pertama maupun kedua, sama-sama tak mengenakkan bagi kaum
kolonialis. Kedua tipe ini, seringkali telah menumbuhkan produk-produk budaya
baru, misalkan saja ada penciptaan seni dan budaya. Begitu pula penciptaan
sastra yang memuat subkultur tertentu, yang diam-diam menolak tradisi
penjajah.Konsep kolonialisme di era manapun memang selalu bergerak pada dua
hal. Pertama, menguntungkan si penjajah, terutama pada bidang-bidang tertentu.
Kedua, menguntungkan kedua-duanya, karena si terjajah dapat belajar banyak
tentang budaya dan kehidupan. Kedua hal tersebut telah menyisakan pengalaman
kultural yang luar biasa. Apalagi, jika penjajah telah sampai menanamkan
imperalismenya, tentu kolonialisme semakin rumit. Pada tataran ideologis tentu
akan lebih berbahaya dalam kehidupan terjajah. Akibatnya, kehidupan si terjajah
secara tak sadar akan mengikuti kehendak penjajah.
Di
era modern yang serta global ini, penjajahan telah semakin pelik. Penjajahan
teknologi informasi, kultural, ideologi dan politik telah menyisakan pengalaman
pahit. Bahkan, bangsa terjajah akan mengalami stress berat, karena merasa
diombang-ambingkan oleh penjajah. Misalkan saja, ketika isu teror ditiupkan
Amerika, secara tak langsung bangsa-bangsa yang mayoritas Islam telah semakin
gerah. Yang penting dikemukakan, tradisi postkolonialisme tak berarti harus
menarik waktu dalam rentang panjang. Peneliti tak harus menarik mundur
kacamatanya ke aspek historis belaka. Peneliti budaya seharusnya tak terkecoh
dengan lama tidaknya kolonialisme. Kolonialisme dapat berlangsung singkat,
datang pergi, dan tak pernah berhenti sepanjang bangsa dan etnis satu
berhubungan dengan yang lain.
Kajian
postkoloniasme budaya paling tidak harus mengaitkan dengan aspek politik.
Kekuasaan politik akan mewarnai kultur kaum kolonialis. Oleh karena, penjajah
akan menanamkan apa saja dan lewat saja yang mungkin dan strategis sebagai
media.
B. Agama
Agama adalah suatu ciri kehidupan
sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai
cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut
“agama” (religious). Agama berasal dari bahasa Sanskrit, yang mempunyai arti:
tidak pergi, tidak kocar-kacir, tetap di tempat dan diwarisi turun-temurun.
Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa agama itu ajarannya bersifat tetap
dan diwariskan secara turun-temurun, mempunyai kitab suci dan berfungsi sebagai
tuntunan hidup bagi penganutnya.
Menurut teori monistik, diantara pelopornya adalah Thomas Van Aquino yang
berpendapat bahwa sumber kejiwaaan agama adalah berpikir. Manusia menggunakan
kemampuan berpikirnya sehingga menghasilkan kehidupan beragama yang merupakan
refleksi dari kehidupan beragama manusia. Sedangkan Fredrick Schleimacher mengemukakan
teori ketergantungan mutlak manusia (sense of depend). Manusia sangat
tergantung pada suatu kekuasaan diluar dirinya yang kemudian menimbulkan konsep
tentang Tuhan. Ketidakberdayaan manusia menghadapi tantangan alam membuat
manusia menggantungkan harapannya kepada kekuasaan yang dianggap mutlak.
Runtutan kejadian ini menyebabkan timbulnya upacara dan ritual keagamaan.
Lain lagi teori fakulti, yang mengemukakan tri fungsi potensi manusia. Pertama:
cipta (reason) yang menentukan benar tidaknya ajaran agama berdasarkan
pertimbangan intelektual. Kedua: rasa (emotion) yang memberikan sikap
batin seimbang dan positif dalam penghayatan kebenaran ajaran agama. Ketiga:
karsa (will) yang menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang benar
dan logis (Jalaluddin, 1996).
Maka
agama dapat diartikan sebagai jalan yang harus dilalui dan merupakan kebutuhan
dasar manusia untuk dapat berhubungan dengan kekuatan gaib dan supranatural
melalui aktivitas penyembahan dan pemujaan agar hidup bahagia dan sejahtera.
ANALISIS KASUS
secara analisis semua kasus teror
bom diatas memiliki latar belakang yang sama, kami mencoba untuk menganalisis
kasus teror bom tersebut, yang secara umum di sebut kasus terorisme.
1. Dalam kajian Poskolonialisme
Poskolonialisme memposisikan dirinya
sebagai subyek dari suatu negara atau dalang dari satu wayang yang menjadi
kiasan bangsa tersebut, dan menjadikan kerdil bangsa yang di tuju dengan
sindrom ketergantungan terhadap koloni.
Teror
bom JW Marriot juga merpakan suatu hal yag dilatar belakangi oleh adanya sebuah
dominasi dan subordinasi dalam tatanan masyarakat, seperti yang kita tahu bahwa
Indonesia adalah bangsa yang memiliki islam terbesar dan memiliki banyak budaya
dan agama, yang tentu dalam kehiduan bermasyarakatnya baik secara jelas atau
tidak akan selalu ditemui sebuhah kecemburuan dan ketidak adilan karena ada ada
kaum dominan dan marginal, kita bisa lihat dalam tatanan pemerintahan siapa
yang menguasai dan selalu menang dalam setiap pemilu. Sealain itu indonesia
juga masih terhitung tergantung pada barat, dan barat selalu mencoba memecah
belah bangsa dengan modernisasinya dan mencoba memasukkan ideologi yang mereka
miliki kedalam penyebaran modernisasinya. Yang tentu merupakan perang ideologi.
Teror bom itu adalah salah satu bentuk nyata dari adanya doktrinan modernisasi
yang dianggap tidak sesuai dengan filosofis Islam, dan memreka mencoba
memurnikan islam dengan bom tersebut, yang sebenarnya salah. Ini adalah perang
idologi yang nyata.
Selain
itu juga Dalam kajian poskolonialisme, mereka bertujuan untuk membirokratisasi
dan mengadministrasi Islam untuk kepentingan kolonialisasi, yaitu pada
bagaimana menyiasati agama agar bisa dan mudah diatur sehingga tidak berkembang
pada fanatisme. Atau secara gamblangnya, bagaimana Islam berkembang menjadi
agama yang moderat (liberal) bukan agama yang radikal dan berpikiran maju
dalam menentang kekuasaan kolonial. Jelasnya, bagaimana menutup pintu
pergerakan kelompok-kelompok yang memiliki kekuatan hubungan sangat erat atau
kelompok yang berazaskan kebersamaan dan kekeluargaan yang kental. Untuk masa
kini, bagaimana membendung kelompok-kelompok teroris. Yaitu, bagaimana
mengembangkan Islam sebagai agama kerukunan yang loyal terhadap kekuasaan atau
kepada birokrasi. Bagaimana Islam menjadi agama yang akomodatif terhadap grand
designer.
Selain
itu alasan mendasar lainnya adalah agar agama khususnya islam tidak dijadikan
sebagai kritik sosial, sebagai etika, yang relevan dengan situasi masyarakat
yang (saat itu) dijajah, atau bagaimana Islam merespons masalah ketimpangan
dalam relasi antara penjajah dan yang dijajah. Jadi, Islam dalam paradigma
dalam pandangan poskolonialisme adalah Islam birokratik, yang cocok untuk
kepentingan penguasaan (dan mempertahankan) tanah jajahan.
Poskolonialisme
ini mendeligitimasi segenap konstruk dan racikan kebudayaan Barat yang
superior, bahwa di balik kedigdayaan ilmu pengetahuan dan supremasi peradaban
Barat itu, ternyata Barat itu tolol. “Tolol”, adalah sebuah kata subversif,
yaitu untuk membalikkan situasi, dari posisi Timur sebagai objek yang dianggap
tidak tahu apa-apa dan bodoh, kini dengan mata melotot berteriak bahwa Barat
sendirilah yang bodoh, picik, dan licik. Artinya, Timur yang awalnya dipandang,
kini balik memandang. Dengan teori poskolonialismenya ini, Timur yang dulu
diperlakukan sebagai objek, kini berbalik memperlakukan Barat sebagai objek.
Timur menjadi subjek dan Barat menjadi objek. Dalam wacana kolonial, yang
menjadi objek (sebagai pasien yang kena penyakit jiwa) adalah penduduk terjajah
atau pribumi. Sedangkan dalam wacana poskolonialisme atau dekolonisasi ini,
yang menjadi objek justru Barat atau penjajah itu sendiri.
Hal
ini yang selalu ditanamkan poskolonialisme bahwa mereka akan terus
mempertahankan sisa-sisa jajahan mereka dalam segala aspek, termasuk dalam
aspek agama. Mereka mencoba untuk tetap menggembungkan tradisi kolonial itu di
negara bekas jajahannya, agar negara tersebut menjadi berada dalam sindrom
ketergantungan, dan akan menyebabkan sulit berkembang mandiri dalam jajaran
pekembangan internasional.
2. Dari segi agama
Beberapa
pandangan tentang terorisme:
- penghampiran normatif-evaluatif yaitu menyalahkan, mencerca, menilai sebagai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan pelaku teror sebagai orang bodoh karena kurang wawasan.
- penghampiran sosiologis yaitu disfungsionalisasi agama, pengatasnamaan agama untuk tujuan tertentu.
- melihat pelaku teror bom bunuh diri sebagai korban dari grand design sebuah narasi besar Amerika dan Yahudi.
Dalam
pandangan ini terorisme sudah barang tentu yang menjadi tujuan utamanya adalah
pertentangan antar umat beragama, mereka tahu indonesia adalah bangsa yang
memiliki beragam agama dan budaya, oleh sebab itu mereka mencoba memecah
bhineka tunggal ika dengan problema internal, yang akan menjauhkan dari
pergaulan dunia internasional, karena seperti yang kita tahu indonesia adalah
negara yang memiliki mayoritas islam terbesar, sehingga perilaku terorisme akan
menjadi senjata yang tepat dalam adu domba bangsa indonesia dan mencemarkan
image indonesia di mata internasional yang akan beranggapan bahwa indonesia
adalah gudang terorisme yang patut dihindari.
Terorisme
sendiri adalah bentuk nyata dari adanya fanatisme, bagaimana fanatisme berperan
dalam suatu kelompok, fanatisme merupakan bentuk solidaritas yang berlebihan
dan terlalu mengagung-agungkan kelompoknya, dalam kajian agama ini, itu berarti
mereka melakukan tindakan terorisme atas dasar jihad yang dalam makna
sebenarnya terjadi penyimpangan makna jihad sendiri, sperti yang kita tahu dan
telah dianalisis bahwa orang-orang yang menjadi pengantin bom bunuh diri
tersebut bukanlah orang-orang yang tidak tahu agama, bahkan ereka adalah
tokoh-tokoh agama yang tahu betul tentang agama.
Dalam
suatu kajian konstruktivistis fenomena ini terjadi alasan mendasarnya karena
doktrinan dari bangsa barat, bagaiman modernisasi berperan dalam hal ini,
karena banyaknya masyarakat indonesia muslim yang mengimitasi tokoh atau budaya
barat yang melanggar atau bertentangan dengan etika norma agama islam dan norma
yang berlaku di Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)